pengalaman-memalukanku-ketika-pertama-ke-kyoto
Jepang

Selain Tokyo, Kyoto adalah destinasi mainstream yang harus kamu kunjungi ketika ke Jepang. Ibu kota Jepang pada waktu lampau ini terkenal dengan desain rumah-rumah yang “Jepang” banget. Baik dari rumah yang modern, atau yang masih tradisional. Berbeda banget dengan Tokyo atau Osaka, main Kyoto ini kalau saya rasa-rasakan sangat amat santai. Maksudnya orang-orangnya tidak sesibuk di Tokyo. Jadi feels like a slow-mo in Kyoto.

Nah, cerita dikit ya… Apa Saja Bisa Terjadi Ketika Kamu Pergi Sendirian

Nozomi Bullet Train
Nozomi Bullet Train | eskapisme.id

Ceritanya saya sampai stasiun JR Kyoto sekitar jam 9.00 malam, hasil menumpang kereta peluru Nozomi dari stasiun Shin-Osaka. Ini rute Shinkansen termurah, berangkat dari stasiun Shin-Osaka ke JR Kyoto. Harganya ¥1,420 untuk yang unreserved-seat (bisa duduk kalo ada yang kosong), dengan waktu tempuh 15 menit untuk jarak sekitar 40Km. Alternatif untuk yg mau cobain naik shinkansen murah.

Shinkansen Ticket
Tiket Shinkansen Osaka-Kyoto. Foto dulu sebelum tertelan | eskapisme.id

Keluar dari stasiun JR Kyoto, lalu disambung dengan antre bus di terminal depan stasiun persis. Lalu disini saya bingung, karena papan informasi rute bus menggunakan huruf Jepang semua. Mau gak mau jurus “sumimasen” keluar, meminta bantuan kepada penduduk lokal. Untung saya sudah menyimpan alamat hostel dalam huruf Jepang, jadi dengan mudah diarahkan oleh warlok (warga lokal). Katanya sih Kyoto ini yang bisa bahasa Inggris lebih sedikit daripada Tokyo. Beberapa orang yang saya minta tolong memang agak susah sih buat berbahasa Inggris, apalagi yang sudah senior alias lansia.

Sampailah saya pada jalur antrian bus nomer 2D yang akan melewati Gojozaka, daerah dimana tempat hostel saya berada. Malam itu bus cukup padat, mungkin jam-jamnya karyawan yang pada balik kerja dan siswa pulang sekolah. Yak betul, saya melihat seorang siswi (seumuran SMP) yang menumpang bus dengan muka sangat lelah. Ah… mungkin dia terlalu semangat mengejar masa depan.

Kyoto Tower Night
Kyoto Tower di malam hari terlihat dari pintu keluar stasiun JR Kyoto | eskapisme.id

Tibalah saya di perempatan depan Santiago Hostel. Pukul 9.45 malam Kyoto sangat sepi, jalan-jalan terasa begitu lengang. Saya bengong sebentar, tidak seperti kota tetangga yang semakin malam semakin ramai. Yasudah saya melanjutkan perjalanan ke Santiago Hostel, tempat dimana saya menginap. Oh iya, sebenarnya hostel saya batas waktu check-ini hanya sampai jam 8 malam. Apabila hendak late check-in sebaiknya menelpon, tapi saya tidak sempat.

Saya terlambat, diakibatkan drama kelupaan loker tempat dimana saya menyimpan tas di stasiun Namba. Apalagi kalo di sana itu stasiun kereta seolah menjadi sentral perdagangan juga. Dengan ditumpuk pusat perbelanjaan di sela-sela koridor dan lantai, jadi tambah susah deh nyarinya. Akhirnya setelah 3 petugas yang saya minta tolong, tahu dimana keberadaan loker itu. Butuh waktu hampir 60 menit untuk muter-muter cari lokasi loker. Haduh…

Yak, balik lagi di depan pintu hostel yang bagian dalamnya sudah temaram. Saya masuk pintu kaca otomatis lalu naik ke lantai 2. Sedih banget rasanya, ketika melihat resepsionis sudah kosong, dan gelap. Tidak ada orang yang bisa saya tanyai, pun nomer telpon yang bisa dihubungi tidak ada.

Lalu dengan wajah lemas, saya turun ke lantai 1 dan berniat keluar. Untuk menghirup udara malam yang menenangkan pikiran. Tetapi ada yang aneh, PINTUNYA RUSAKKK… saya berdiri di depan pintu otomatis dan anehnya pintu itu gak mau terbuka. Waduh, saya tambah panik. Masak saya harus bermalam di lobi gara-gara ga bisa keluar.

Sekilas saya melihat seorang perempuan berambut pirang sedang duduk di emperan hostel, kayaknya sedang nelpon deh. Coba ketok-ketok kaca, lalu memberi isyarat untuk membuka pintu dari luar setelah dia tau keberadaan saya. Lalu perempuan berambut pirang itu berdiri di depan dan pintu kaca terbuka dengan sendirinya. Saya lalu komplain dong…

 

Me : Aku rasa pintu ini rusak, tidak bisa dibuka dari dalam…

Girl : No.. kalau kamu mau keluar, pencet dulu tombol merah itu… baru deh bisa keluar…

Me : Glekkkk!!! Oh, I’m sorry (malu cuy, ketahuan kampring)

Girl : Kalau kamu mau masuk lewat jam 12 malam, kamu harus masukkan kode yang tertera di kunci kamu. Soalnya setelah jam 12 malam pintunya akan terkunci otomatis.

Me : (curhat dong jadinya) Oh iya, tapi aku terlambat. Aku ketinggalan kereta dari Osaka dan sampai sini sudah tidak ada petugas resepsionisnya.

Girl : Oh.. I’m sorry, aku juga tidak punya nomer petugas yang bisa dihubungi.

Me : Ok, no problem. Saya akan cari penginapan lainnya dekat-dekat sini.

Lalu terjadilah percakapan basa-basi antar traveller. Gadis itu bernama Rene, dia sedang solo travelling dan berasal dari Jerman. Lalu, saya coba mencari hostel dekat situ yang masih buka dan pastinya affordable. Soalnya kalo go show atau tanpa booking di travel apps harganya jadi mahal. Rene pun masuk ke hostel dan saya masih duduk di teras sambil nelpon teman saya seorang resident di Sendai untuk minta tolong.

Tiba-tiba Rene berlari keluar.. (ahh..udah kangen aja ini bocah),

Rene : Your name is Arif right?

Me : Yoi..

Rene : Ok, follow me?

Me : (waduh.. Apalagi ni)

Ini bagian yang paling memalukan, Rene menunjukkan ada kertas yang bertuliskan nama saya dan kunci kamar. Mungkin karena panik menjadikan saya tidak teliti akan keberadaan kertas catatan itu. Hahahaha.. Syukurlah gak jadi keluar duit tambahan. Berkat Rene saya gak menggelandang malam ini.

Segitu saja percakapan saya dengan Rene. Setelah membersihkan diri dan belanja ke minimarket, saya tidak menemuinya lagi di ruang tengah (sampai saat check out juga 2 hari kemudian). Padahal saya mau mentraktir bir sebagai tanda terimakasih (halah…)

Bagusnya Santiago Hostel ini punya konsep penginapan yang homie banget. Ruang tengahnya tidak terlalu ramai dengan alat-alat elektronik. Jadi kita bisa fokus ngobrol sembari mencari teman baru untuk berbagi pengalaman. Seperti pasangan Polandia dan Prancis yang saya temui, namanya Maya dan Boris. Kita harus keren dong didepan foreigner, apalagi yang bisa kita sombongin dari Indonesia kalo bukan pariwisatanya. Ya dikit-dikit jadi sok duta wisata lah.

Dari pengalaman ini saya mendapat kesan yang mendalam. Ada pusingnya, ada (banyak) malunya, tetapi akhirnya hari itu ditutup dengan obrolan asik multinasional hingga lewat tengah malam. Yah.. kapan lagi bisa begini kalo gak kita nekat untuk solo travelling.

Kamu juga punya pengalaman yang lucu, gokil, inspiratif, bahkan lebih memalukan dari saya? Coba dong ceritain… Hehehe

Semoga bermanfaat. Maaf apabila tokoh dalam kejadian tidak sempat terdokumentasikan lewat gambar karena kepanikan. Harap maklum.


0 Comments
Share
Tags: ,

Arief Hermanto

Visual Story Teller | Mencoba bercerita tentang kisah perjalanannya. Punya banyak rencana yang masih cuma menjadi rencana. Pelan-pelan sambil dijalanin aja. Karena hidup itu cuma mampir bercanda, ya kan?

Bagi Pendapatmu

%d bloggers like this: