sehari-menjelajahi-osaka
Jepang

Setelah lebih dari 7 jam melayang di atas udara. Akhirnya terdengar juga suara pilot mengisyaratkan untuk posisi pendaratan kepada seluruh penumpang dan awak kabin. Dari celah jendela sudah terlihat Kansai International Airport yang seakan mengapung di atas air laut. Hentakan roda pesawat ke tanah, menimbulkan goncangan yang cukup kuat untuk membangunkan penumpang yang masih tertidur. “Yes, we arriving. Welcome to Japan”, ucap Yusuke. Nihonjin yang baru saya kenal sebelum pesawat terbang meninggalkan Kuala Lumpur. Osaka adalah kota yang berhasil saya singgahi saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Pengalaman pertama ribuan mil perjalanan jauh dari tempat tinggal. Oke, petualangan sudah dimulai. Tetapi karena waktu yang terbatas, saya hanya berkesempatan menjelajahi Osaka sehari saja.

Untuk yang pertama kali ke Jepang seperti saya, Osaka memang cocok sebagai kota perkenalan. Tidak seramai Tokyo, tapi banyak hal yang tak kalah seru juga untuk dijelajahi. Singkat kata banyak pengalaman baru yang kita bisa rasakan di Jepang. Untuk itu, saya coba merangkum cerita perjalanan menjelajahi Osaka dalam 24 jam.

Dimulai dengan,

Naik Kereta Pertama Kali di Jepang.

Kereta Haruka Express
Pertama kali naik kereta di Jepang coy.

Hampir saja saya mengalami nasib buruk, ketika tertahan di ruangan interogasi Imigrasi Bandara Kansai. Untungnya keberuntungan masih berada di pihak saya. Setelah lepas dari jeratan petugas imigrasi, tugas pertama yang harus di kerjakan adalah menuju kota Osaka. Ya, ini adalah pengalaman pertama kali naik kereta di Jepang.

Waktu itu saya membeli paketan tiket kereta Haruka Express rute Bandara-Osaka PP dan ICOCA dengan saldo 2000 YEN. Pertimbangannya adalah memang ICOCA akan sangat berguna sekali selama di Osaka. Kedua, bandara Kansai akan menjadi gerbang kepulangan dikemudian hari. Selain itu, jika beli sepaket, harga kereta Haruka PP jadi lebih murah dibanding ngecer.

Untuk yang berminat beli bisa mampir kesini.

Menginap di Guesthouse.

Guest House
Atas nama pengiritan, mari kita masuk ke dalam. Doakan saya semoga di trip selanjutnya bisa memilih akomodasi yang lebih mevvah.

Setelah perjalanan dengan kereta Haruka Express selama hampir 50 menit, saya turun di stasiun Tennoji. Disambung dengan mengendarai kereta bawah tanah dari Tennoji menuju ke Namba. Setelah turun di stasiun Namba, berjalan kaki sebentar kurang lebih 15 menit (biasa, nyasar dulu dikit) menuju ke guesthouse yang sudah saya pesan.

Pengalaman pertama kali menginap di guesthouse adalah ketika berada di Singapura pada 2 hari sebelumnya. Tetapi guesthouse di Jepang ini menurut saya sangat futuristik. Semuanya bersih, dan tertata rapi. Akhirnya disini saya menemukan toilet yang penuh dengan tombol, seperti pada foto-foto di internet. Untungnya ada tempelan manual berbahasa Inggris, jadi tidak perlu bingung dengan aksara Jepang.

Jalan-Jalan Malam di Area Dotonbori – Shinsaibashi

Dotombori Bridge
Jembatan Dotonbori.

Karena guesthouse yang saya naungi terletak dekat dengan pusat keramaian, maka tidak ada alasan untuk berlama-lama di sana. Setelah membersihkan diri dari kotoran yang menumpuk selama 2 hari. Segeralah kaki ini berjalan-jalan menyusuri keramaian jalan di area Dotombori.

Wisata malam disini terbilang sangat lengkap. Ada jembatan yang membentang diatas sungai Dotonbori yang ikonik. Dihiasi gemerlap cahaya LED yang menempel rapi di gedung-gedung pusat perbelanjaan. Cukup untuk berjalan-jalan sambil cuti mata menikmati keramaian kota. Terdapat juga tur menyusuri sungai Dotombori dengan perahu.

Glico Board
Papan LED Glico yang ikonik, banyak menarik perhatian wisatan untuk swafoto.

Parade streetfood yang menghiasi kanan kiri jalan juga menggoda untuk dicicipi. Tidak lengkap rasanya kalau tidak jajan takoyaki dan okonomiyaki di tempat asalnya. Sebetulnya menurut saya semua jajanan disini rasanya enak-enak. Tapi yang paling enak dan terkenal adalah yang antrinya panjang, apalagi panjang banget. Betah-betahin deh nunggu.

Terpisah bebebrapa blok dari pusat keramaian, terdapat gang-gang yang menjajakan hiburan malam bernuansa privat dan premium. Kalau dilihat dari luar ya, rata-rata hiburan yang disajikan khusus dewasa. Hi.. karena masih kecil, saya ngeloyor aja sambil mengamati petugas klab yang menawarkan paket hiburan di pinggir jalan.

Malam semakin larut, saat nya kembali ke penginapan untuk mengisi tenaga.

Nitip Tas di Stasiun Umeda

Tas gede mu bisa dititipkan disini. Harganya mulai dari 300-600 YEN, tergantung seberapa besar ukurannya.

Setelah menyelesaikan sarapan dan ritual pagi yg lainnya. Waktunya check-out dan melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama adalah stasiun Umeda, untuk menitipkan ransel yang agak besar di koin loker. Lalu lanjut menuju stasiun Osaka Castle.

Cukup masukkan koin pecahan 100 Yen sebanyak 3 kali kedalam lubang. Tutup pintu dan putar kunci, kemudian simpan kunci di tempat yang sangat aman. Jangan sampai hilang ya, bisa jadi perkara nanti.

Coin Locker
Jangan sampai kelupaan menyimpan kuncinya dimana.

Jika tidak punya koin, bisa menukarkan uang kertas lembaran ke beberapa penjaga toko di sekitar koin loker. Pada beberapa mesin koin loker sudah dilengkapi dengan pemindai uang elektronik. Jadi bisa membayar dengan menggunakan ICOCA (atau SUICA/PASMO).

Beres dengan urusan per-ranselan, langsung naik kereta menuju ke,

Osaka Castle, Dulu Istana Sekarang Museum.

Osaka Castle
Istana Osaka

Entah kenapa jika di luar negeri saya seolah sok-sokan ingin main ke museum. Mungkin karena tiketnya murah atau bahkan gratis. Mungkin juga museum disana dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang sangat menarik. Seperti Osaka Castle, istana sekaligus benteng di masa lalu, yang kini telah beralih fungsi menjadi museum dan terbuka untuk umum.

Dengan membayar 600 YEN (atau dengan menunjukkan Osaka Amazing Pass), kita bisa masuk ke dalam bangunan utama. Pada bangunan utama kita bisa menyusuri setiap lantai yang berisikan koleksi bernuansa sejarah. Spot yang paling menarik adalah layar berukuran besar yang menyajikan tafsiran lukisan Perang Pengepungan Osaka. Lanjut terus sampai di lantai paling atas, area kota Osaka bisa kita dinikmati dari ketinggian.

Ternyata berkeliling area Osaka Castle cukup membuat lelah. Untungnya banyak lapak pedagang yang siap memenuhi hasrat kelaparanmu. Karena cuaca saat itu sedang panas-panasnya, kayaknya beli es krim enak deh.

Matcha Ice Cream
Kore hitotsu (ini satu), sambil jari telunjuk mengarah ke sepucuk es krim matcha yang menggoda.

Enggan berleha-leha terlalu lama, saya membuka brosur Osaka Amazing Pass yang terselip di tas. Mungkin karena masa kecil kurang bahagia ya, entah mengapa kok kepingin naik bianglala ya? Tanpa pikir panjang saya mengambil rute kereta menuju ke,

Tempozan Feris Wheel

tempozan feris wheel
Yang masa kecilnya kurang bahagia jangan malu buat naik bianglala ini. Lumayan bisa lihat pemandangan kota dari ketinggian.

Jarak dari Osaka Castle ke Tempozan cukup jauh. Kawasan pelabuhan ini berada di pinggir laut, atau lebih dekat dengan Kansai International Airport. Kalau dibandingkan dengan kawasan pelabuhan di Indonesia, Tempozan terlihat jauh lebih rapi. Entah mengapa tidak tercium bau khas pelabuhan di tepian laut. Tapi tetap, banyak garam yang menempel pada kulit dan rambut.

Lingkaran besar yang menjulang di angkasa sudah terlihat walau dari kejauan. Tidak terlalu sulit menemukan bianglala ikonik tersebut.

Ternyata benar, mayoritas yang naik bianglala ini adalah rombongan keluarga beseta anak-anak mereka. Minimal ya pasangan muda romantis yang baru jadi-jadinya. Tentu saja kesendirianku ini pasti membuat aneh para gadis lucu penjaga bianglala. Walaupun mereka tetap tersenyum layaknya kepada pengunjung yang lainnya. Pasti dibelakang mereka mencibir (maafkan prasangka buruk saya).

Tempozan
Pemandangan kota pinggir laut yang rapih.

Dari atas pemandangannya asik. Kawasan gudang pinggir laut yang rapi dan bersih. Terlihat juga jembatan berwarna merah menyala yang menghubungkan dengan Bandara Kansai.

Osaka
Jalanan Osaka yang ruwet tapi tidak macet.

Setelah turun dari Tempozan Feris Wheel, pada saat melewati pintu keluar saya ditawari sebuah cetakan foto. Ternyata itu adalah foto dengan gaya kampungan saya ketika diambil sebelum naik oleh gadis penjaga bianglala. Tentu saja saya tolak dengan halus, karena tidak tercover oleh Osaka Amazing Pass. Maaf nya mbak, bukan maksud melukai hatimu. Tetapi saya harus ngirit.

Puas kesampaian naik bianglala sambil mengamati Osaka dari udara. Kini saatnya mengarungi lautan menggunakan,

Santa Maria Cruise Ship

Santa Maria Cruise
Berlayar di sekitaran pantai Osaka. Sumber

Lokasi dermaga berada tepat di belakang Tempozan Feris Wheel, berdekatan dengan Osaka Aquarium. Jadwal keberangkatan setiap sekitar 60 menit sekali, dengan biaya 1600 YEN (tercover Osaka Amazing Pass).

Replika kapal yang digunakan oleh Colombus untuk menjelajahi dunia ini, akan mengajak berputar-putar mengarungi pantai Osaka selama 50 menit. Tentu saja dengan bonus panduan perjalanan berbahasa Jepang gratis nonstop lagi, yang tersiar dari pengeras suara diatas kapal.

Untungnya arus air laut saat itu sangat tenang, jadi tidak sampai membuat orang-orang mabuk laut. Tentu saja merepotkan kru kebersihan kapal kalau itu sampai terjadi.

Osaka Red Bridge
Dari kapal Santa Maria replika kita bisa melewati bagian bawah Osaka Red Bridge yang ikonik.

Matahari mulai memerah, tak terasa sore menjelang dan petang akan datang silih bergantian. Sebelum berganti malam, saatnya berpindah lokasi ke,

Umeda Sky Building

Osaka Dawn
Pemandangan kota Osaka menjelang senja.

Bangunan tertingi di Osaka ini memang menawarkan pemandangan senja yang memikat. Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang, serta timelapse pergantian cahaya matahari dengan gemerlap lampu malam cocok bagi para pemburu foto.

Lokasinya tidak jauh dari stasiun Umeda dan dapat ditempuh sekitar 10 menit jalan kaki. Jika berniat mengunjungi Umeda Sky Building pada waktu menjelang senja. Kita bisa merasakan pengalaman berjalan kaki ditengah ramainya pada karyawan yang baru saja pulang dari kantor.

Setelah membayar biaya sebesar 1000 Yen, kita bisa menggunakan lift berkecepatan tinggi menuju puncak bangunan. Bangunan Umeda Sky Building ini terdiri dari 39 lantai dengan ketinggian total 173 meter dari atas tanah.

Oh iya, untuk mendapat pemandangan yang indah. Lebih baik datang lebih awal, karena semakin petang wisatawan pasti bertambah banyak. Tentu akan menyulitkan apabila ingin berburu foto yang ciamik.

Nah itu dia beberapa tempat yang sempat saya singgahi ketika berkunnjung di Osaka. Pastinya masih banyak lagi tempat menarik yang layak untuk dicoba di lain waktu. Jadi, mau kemana kalau kamu ke Osaka? Tulis di kolom komentar ya.

Terimakasih.


0 Comments
Share
Tags: ,

Arief Hermanto

Visual Story Teller | Mencoba bercerita tentang kisah perjalanannya. Punya banyak rencana yang masih cuma menjadi rencana. Pelan-pelan sambil dijalanin aja. Karena hidup itu cuma mampir bercanda, ya kan?

Bagi Pendapatmu

%d bloggers like this: